Naskah Khutbah Idul Fitri 2022 Singkat Padat Menyentuh
Hati:
Makna Saling Memaafkan saat Idul Fitri
Khutbah I
اللهُ
أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ،
االلهُ أَكْبَرُ للهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ الصِّيَامِ، وَأَعَانَنَا فِيْهِ
عَلَى الْقِيَامِ، وَخَتَمَهُ لَنَا بِيَوْمٍ هُوَ مِنْ أَجَلِّ الْأَيَّامِ،
وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الواحِدُ
الأَحَدُ، أَهْلُ الْفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ إلَى جَمِيْعِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ التَّوْقِيْرِ
وَالْاِحْتِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا
بَعْدُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا
اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
Jamaah salat Idul fitri yang dirahmati Allah SWT,
Agama Islam diturunkan ke dunia dengan banyak tujuan, salah satunya adalah menjaga ukhuwah antarmanusia yang hidup dalam perbedaan. Allah SWT. berfirman dalam surah Hud ayat 118,
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ
أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Artinya, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,”
Kitab tafsir Ath-Thabari menceritakan bahwa
Rasulullah saw. suatu kali pernah amat mengharapkan keimanan dari semua umat
manusia di seluruh dunia. Beliau saw. sangat ingin semuanya mengimani kenabian
dan kerasulannya.
Akan tetapi, Allah SWT. Seketika itu juga mengingatkan tugas Rasulullah sebagai mubasysyir (pembawa kabar gembira) dan mundzir (pembawa peringatan) atas umat manusia. Tak seorang pun, bahkan sang nabi sendiri, yang sanggup memaksa orang lain untuk memiliki kadar keimanan yang setara.
Surah Yunus ayat 99 mengabadikan firman Allah SWT. berikut,
وَجَٰوَزْنَا
بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا
وَعَدْوًا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ
إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Artinya, “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: ‘Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan Ilah yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’”
Jamaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah SWT,
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. meminta pamannya, Abu Thalib, untuk memeluk Islam di saat-saat terakhirnya.
Kemudian, Allah SWT. mengingatkan utusan-Nya tersebut bahwa hanya Zat-Nya-lah yang memiliki hak untuk memberi hidayah, seperti yang direkam dalam surah al-Qashash ayat 56.
إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya, “Sesungguhnya, kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
Jamaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah SWT,
Kalam-kalam Allah SWT. tersebut dimaksudkan-Nya untuk menegaskan bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan, dan kita tidak boleh memaksakan agar keseragaman berlaku dalam hal apa pun. Jika harus bersikap, hadapi ketidakseragaman tersebut dengan menganggapnya sebagai karunia.
Dalam bermuamalah atau berhubungan dengan
sesama manusia, Islam mengenalkan dua prinsip yang harus dijadikan prioritas,
yakni al-‘adl (berlaku adil) dan al-ihsan (berbuat baik), seperti yang telah
dituliskan dalam surah an-Nahl ayat 90.
إِنَّ
ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ
وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
Artinya, “Sesungguhnya, Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Ayat ini sudah dibaca oleh para khatib dalam
tiap khotbah Jumat sejak lebih dari seribu tiga ratus tahun yang lalu.
Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz r.a. yang menginstruksikan demikian untuk mengganti budaya mencaci maki dalam khotbah yang berlangsung setelah perang saudara pecah sejak kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berakhir.
Setelah instruksi khalifah ‘Umar r.a. turun,
hilanglah ujaran-ujaran yang mengandung kebencian dan permusuhan.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
Jamaah salat Idulfitri yang dirahmati Allah
SWT.
Dalam kitab At-Tahrir wa at-Tanwir, Syekh Muhammad Ath-Thahir bin Asyur menyatakan bahwa ayat ke-90 surah an-Nahl ini adalah inti dari syariat Islam.
Hal tersebut diamini oleh Syekh Izzudin bin Abdis Salam yang menuturkan bahwa kalam Allah SWT. tersebut merupakan tonggak dasar dari semua hukum dan fikih dalam Islam.
‘Memberi kepada kaum kerabat’ juga disebutkan sebagai pengingat untuk selalu mendahulukan orang terdekat dalam memberikan bantuan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah orang tua, anggota keluarga, dan tetangga yang dekat secara fisik.
Poin berikutnya adalah dilarang-Nya manusia
melakukan kerusakan yang membahayakan, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga
dirinya sendiri.
Contohnya adalah membunuh, mencuri, mabuk-mabukan, dan hal lain yang termasuk ke dalam tindakan sewenang-wenang dalam berinteraksi dengan sesama ciptaan-Nya. Perbuatan yang mengikuti hawa nafsu ini adalah bagian dari budaya orang Arab jahiliah sebelum diutus-Nya Rasulullah saw.
Pada masa itu, mereka terkenal amat setia dengan kabilahnya. Namun, karena jahil (bodoh)-nya, kesetiaan tersebut diusung dengan tindak kekerasan dan ujaran kebencian. Hanya karena berbeda klan, persamaan derajat antar manusia seolah tak dianggap.
Islam kemudian datang untuk memperbaiki kebiasaan buruk itu. Allah SWT. juga mengutus Rasulullah saw. sebagai contoh pelaku kehidupan yang baik dan sabar. Dikisahkan, Nabi Muhammad saw. dizalimi oleh orang-orang kafir Quraisy. Berbagai tindak aniaya pun pernah beliau saw. terima.
Namun, Rasulullah saw. tidak membalasnya.
Para sahabat yang juga merasakan darahnya mendidih melihat kezaliman itu pun
diredam amarahnya oleh sang nabi. Dikatakan oleh manusia mulia ini agar mereka
bersabar, seperti yang sudah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Salim Abu
an-Nadhr r.a.
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ تَعَالَى
الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ
تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ
Artinya, “Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah Ta’ala. Apabila kalian telah bertemu dengan mereka, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga di bawah naungan pedang.”
Allah SWT. menurunkan Al-Qur’an di tengah
bangsa Arab jahiliah dengan kondisi yang mengedepankan emosi dan hawa nafsu.
Oleh karenanya, larangan berbuat aniaya dan kerusakan disebutkan dengan khusus
dalam an-Nahl: 90.
Jamaah salat Idul fitri yang berbahagia,
Islam mengakui perbedaan, tetapi juga mengajarkan pemeluknya untuk menghargai ketidakseragaman itu. Tradisi saling meminta maaf serta memaafkan sudah membudaya di hari Idulfitri ini, dan ini adalah kesempatan yang amat baik untuk kembali menjalin ukhuwah yang mungkin sempat meregang.
Demikian khutbah Idul Fitri pagi ini. Selama
Hari Raya Idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.
تقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ عِيْدِنَا، وَأَعِدْهُ
عَلَينَا أَعْوَامًا عَدِيْدَةً أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ
اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ جَعَلَنَا اللهُ
وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبوْلِيْنَ،
وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. وَاَقوْلُ
قوْلِى هَذَا، وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتغْفِروهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبرُ، وللهِ الحَمْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ
الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ، أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ وَجَعَلَهُ مِنْ دَلاَئِلِ
الإِيمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا وَنبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ،
وَالنِّعْمَةُ الْمُسْدَاةُ، وَهَادِي الإِنْسَانِيَّةِ، إِلَى الطَّرِيقِ
الْقَوِيمِ. فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ
وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا
عَشْراً. اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ
الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ،
عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى
اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Sumber: tebuireng.co
Komentar